Maret 10, 2010

pacar baru


Aku lagi jenuh neh, tiap hari mainannya itu-itu aja. Kalo ga buka facebook, chatting di YM ato Skype. Bosen lama-lama liat status orang yang isinya ngeluh ato curhat *padahal aku juga sering gitu, hehe*. Ga tau deh, rasanya pengen keluar dari rutinitas harian yang ngebosenin. Misalnya, biasanya dari senin – jumat pergi ngantor jam setengah delapan, pengen deh sekali-kali jam sembilan masih pake piyama sambil nonton gossip, berangkat ngantornya nanti aja jam sepuluhan, bisa ga ya? *pelanin suara, takut kedengeran orang HRD*   

Udah dua bulan ini aku ngerasa jenuh banget. Mau ngerjain apapun rasanya males banget. Sampe-sampe makan pun jadi males *ngumpet dipojokan takut dicekokin boldie*. Alhasil, berat badan aku sukses turun dengan drastis. Sampe diceng-cengin tulang rawan sama si cucum *sialan*.

Back to topic BOSEN. Emang sih aku akuin kalo rasa bosen ini karena aku baru melewati fase patah hati ato bahasa keren nya broken-hearted phase. Semenjak saat itulah, facebook yang awalnya menyenangkan mendadak jadi basi, YM yang tadinya jadi tempat pacaran siang hari, jadi kayak kuburan kalo malem..sepi dah gitu dingin.

Tapi baru hari ini, eh..engga deh, mulai dari kemarin aku rasain klo aku udah nemuin tempat baru buat eksis. Tempat yang cuco’ banget buat jadi diri sendiri. Ho-oh, sekarang aku jadi seneng blogging. Ibarat kata, blogspot dah jadi pacar baru buat aku. Dari pagi ngantor sampe sorenya pasti ga pernah lepas dari yang namanya blog…hehe. Kayak pagi tadi, tiba-tiba aja dapet ide untuk utak-atik tampilan blog aku. Thanks to nitya yang udah kasih aku inspirasi. 

Sekarang kurangin dah ah yang namanya facebook sama YMan, mendingan cerita-cerita ato ngacak-ngacak blog orang…hehe.

So, kenalin pacar baru aku…mr. blogspot.  



Maret 09, 2010

vincent, will you marry me?



* There is no remedy for love but to love more* 

~ Thoreau ~

Pagi tadi aku pasang status di BBM “pengen punya suami kayak Vincent Rompies”, dan ga berapa lama kemudian BB aku beeping. Ada message dari Mario, odre’s soulmate.

(M is for Mario and T is for me)

M: “naon sih”

T: “hahaha”

T: “pengen punya suami kayak Vincent Rompies  neh gw”

M: “nape”

T: “abisnya dia gokil, gaul, good looking, smart dan sayang keluarga apalagi anak-anak”

T: “ples…bibirnya itu lo, keriting hehe”

M: “hahah..bibir keriting biar bisa diputer-puter yak?”

T: *DOH, senyum kecut* “hehe…”

Emang konyol banget status aku di facebook, YM juga BBM. Banyak juga yang nanya, kenapa mesti Vincent. Well guys, I have my own reason and at this moment I realize that I like him.

Kalo aku buat analogi, Vincent itu kayak seekor penguin jantan. Tampilan fisik ga terlalu meyakinkan, bahkan kalo dilihat dari cara jalannya bisa dibilang lucu cenderung konyol. Terkadang hidup menyendiri tapi tetep bisa beradaptasi di kerumunan penguin yang lain. Mukanya yang lugu tapi terkesan serius. Dan satu hal dari penguin yang aku suka. Penguin itu salah satu hewan yang hidup monogami. Hanya akan menikah dengan 1 penguin betina sepanjang hidupnya. Selain itu, penguin jantan itu sosok bapak yang baik. Meskipun ber-gender jantan, dia tetep bersedia mengurus bayi penguinnya. Saling menjaga dengan pasangan, sang penguin betina. 

Buat aku, itulah Vincent. Tapi hebatnya ga banyak masyarakat yang tahu tentang kehidupan keluarga kecilnya. Meski hidup di kegemerlapan dunia artis, tapi dia tetep setia dengan pasangan dan keluarganya.

Seandainya aja ada kembaran Vincent di dunia, aku mau jadi istrinya.  

my journey






Liburan empat hari ke Jakarta emang bawa hal baru buat aku,

Ketemu sepupu cantik, ketemu sahabat jauh, ketemu teman baru,

Dan seorang penting yang masih ada dipikiran aku sampe detik ini

I felt the excitement when I were on my way there,

Not only smiling along the highway but also singing,

Imagining my self walking with my beloved people,

Ditengah kerumunan massa di Java Jazz Festival 2010

 

Diperjalanan aku lebih suka melihat sisi kanan jendela,

Melihat marka jalan tol dengan ukiran angka,

Perjalanan berpuluh meter aku jalani ke tempat yang sangat asing

Untuk “gadis kecil” seperti aku ini perjalanan yang menyeramkan

Bertandang ke belantara gedung bertingkat dengan resiko hilang arah yang cukup besar

Di dalam mobil aku tertawa kecil,

Menertawakan diri sendiri sekaligus merasa bangga,

Meskipun aku hanya gadis kecil tapi aku bisa melakukannya

Perjalanan panjang untuk mendapatkan sedikit kebahagian,

 

Seperti artikel yang aku baca disini,

Tentang perjuangan seorang pria untuk menemui kekasihnya

160,000 km dengan perjalanan selama 3,5 bulan,

Penantian yang panjang dan melelahkan, namun aku yakin terbayar dengan sangat mahal

Kembali lagi ke perjalanan aku kemarin,

Bertemu dengan sepasang kekasih yang aku kenal dari 3 tahun yang lalu

Betapa kagetnya mereka melihat aku yang sekarang,

Berbeda katanya, dan mengkhawatirkan

Aahhh, iyah..aku tahu sekarang aku kehilangan beberapa pon dari berat normalku

Sedih rasanya melihat reaksi sahabat-sahabat lama yang melemparkan tatapan sedih setelah bertemu aku yang baru,

Hhmmm…aku janji guys, aku beli susu penambah berat badan bulan ini

Tunggu aku 5 bulan lagi, kalian pasti *drolling* hehehe.

 

Oia, java jazz festival tahun ini kurang begitu mengesankan buatku

Terlalu crowded dan acak-acakan,

Terlalu panas dan tidak nyaman,

Bukan hanya karena venue nya yang berpindah,

Tapi juga karena status aku kini yang sudah berubah,

Sedih rasanya ketika kita berada di sebuah acara yang sama tapi dengan feel yang berbeda,

Aku dibuat kangen dengan Java Jazz 2009,

Kangen suasana dan kehangatannya,

Serta hal-hal sederhana yang pantas untuk diabadikan,

 

Ditengah alunan merdu Glenn Fredly,

Pikiranku sedikit melayang, jauh ke masa itu

Masa ketika aku tersenyum sepanjang konser,

dipeluk dan dijaga dari sesak manusia

menikmati setiap alun suara merdu glenn dan hangatnya pelukan seseorang,

 

Aku tahu, sekarang semua sudah tidak sama

Ada yang berubah dari kisah aku dan dia,

Tapi ada satu hal dariku yang aku yakin tetap sama

Seperti yang Glenn katakan malam itu “yang namanya cinta, tidak akan pernah mengenal yang namanya mati rasa” …I couldn’t agree more

 

Dan ketika sore itu aku (akhirnya) harus kembali ke dunia nyata

Melihat dia menunggu aku untuk pergi,

Seperti aku (dulu) harus melihat punggungnya yang semakin lama semakin pergi menjauh,

Aku ingin tahu apa yang dia rasakan saat aku pergi,

Apa rasanya sama seperti yang aku rasakan dulu?

  

nb: those are my documentations while I was there.